Panduan Komprehensif Resusitasi Anak dari Pencegahan hingga Pemulihan
European Resuscitation Council (ERC) Guidelines 2025 Paediatric Life Support
Mengapa Resusitasi Anak Berbeda?
Henti jantung pada anak merupakan kejadian yang relatif jarang dibandingkan populasi dewasa, tetapi konsekuensinya dapat sangat besar. Pada anak, henti jantung sering kali merupakan tahap akhir dari deteriorasi respirasi, sirkulasi, atau kondisi neurologis. Karena itu, keberhasilan resusitasi sebenarnya dimulai jauh sebelum kompresi dada dilakukan.
ERC Guidelines 2025 Paediatric Life Support mencakup bayi, anak, dan remaja usia 0–18 tahun. Pedoman ini tidak ditujukan untuk resusitasi neonatus pada saat lahir karena fase transisi fetus-neonatus memiliki karakter fisiologis yang berbeda dan dibahas dalam ERC Newborn Life Support.
Pedoman 2025 dikembangkan berdasarkan Consensus on Science with Treatment Recommendations (CoSTR) dari ILCOR, rapid reviews oleh ERC Paediatric Life Support Writing Group, serta konsensus ketika bukti ilmiah belum memadai.
Prinsip besar ERC 2025: pada anak, mencegah henti jantung dengan mengenali dan menangani penyakit kritis secara cepat merupakan bagian fundamental dari resusitasi.
Siapa yang Termasuk Pasien Pediatrik?
| Kelompok | Rentang usia | Implikasi |
|---|---|---|
| Infant | Neonatus hingga <1 tahun | Teknik airway, ventilasi, kompresi, dan choking disesuaikan dengan ukuran tubuh. |
| Child | 1–12 tahun | Teknik kompresi dapat menggunakan satu atau dua tangan sesuai ukuran anak. |
| Adolescent | 13–18 tahun | Teknik kompresi pada dasarnya mengikuti prinsip dewasa. |
Apa yang Baru dan Penting pada ERC 2025?
Salah satu cara paling mudah memahami guideline 2025 adalah dengan membandingkannya dengan guideline 2021.
| Topik | ERC 2021 | ERC 2025 |
|---|---|---|
| Sistem & masyarakat | Belum dibahas secara khusus. | Rekomendasi khusus untuk masyarakat, orang tua/caregiver, komunitas, dan implementasi sistem. |
| Intubasi | Atropin dapat dipertimbangkan sebagai premedikasi. | Atropin tidak direkomendasikan secara rutin; upaya intubasi dibatasi maksimal dua kali. |
| Status epileptikus | Beberapa pilihan obat lini kedua. | Levetiracetam menjadi pilihan lini kedua yang diutamakan. |
| Hipoglikemia | 0,3 g/kg IV. | 0,2 g/kg IV, misalnya 2 mL/kg glukosa 10%. |
| Kompresi bayi | Teknik dua jari dapat dipertimbangkan. | Two-thumb encircling technique direkomendasikan. |
| Defibrilasi | Lebih menekankan posisi anteroposterior pada anak kecil. | Posisi anteroposterior maupun anterolateral dapat digunakan sesuai ukuran dan kondisi anak. |
| Hiperkalemia saat arrest | Kalsium, bikarbonat, insulin + glukosa. | Insulin + glukosa dan beta2-agonis; kalsium tidak digunakan secara rutin pada cardiac arrest akibat hiperkalemia. |
| Post-resuscitation | Pembahasan relatif singkat. | Bab diperluas dengan algoritme prehospital, hospital, prognostikasi, dan follow-up. |
| Post-discharge | Belum terdapat bab khusus. | Menjadi bagian resmi dari continuum of care. |
Chain of Survival: Resusitasi Dimulai Sebelum Cardiac Arrest
ERC 2025 menempatkan Chain of Survival sebagai kerangka utama. Rantai tersebut mencakup pencegahan henti jantung, pengenalan dan pemanggilan bantuan, PBLS, PALS, perawatan pasca-resusitasi, kemudian survival dan recovery.
Pada anak, titik pertama rantai ini sangat penting karena cardiac arrest sering didahului oleh respiratory failure, circulatory failure, atau keadaan neurologis berat.
Mengenali Anak Kritis: Jangan Menunggu Sampai Cardiac Arrest
ERC 2025 merekomendasikan pendekatan cepat menggunakan ABCDE setelah melakukan quick-look assessment. Salah satu konsep yang digunakan untuk pengenalan awal adalah BBB: Behaviour, Breathing, Body colour.
Behaviour
- Penurunan kesadaran atau sulit dibangunkan.
- Floppy atau rigid.
- Kejang.
- Kebingungan atau agitasi.
- Interaksi abnormal dengan orang tua/caregiver.
- Tidak mampu menggerakkan anggota tubuh atau mengalami nyeri berat.
Breathing
- Kesulitan bernapas.
- Takipnea atau pola napas abnormal.
- Grunting.
- Nasal flaring.
- Retraksi.
- Stridor atau suara napas abnormal.
- Apnea atau napas sangat lambat/tidak teratur.
Body colour
Perhatikan sianosis, mottling, pucat, atau warna abu-abu. Pada anak dengan warna kulit lebih gelap, evaluasi telapak tangan, telapak kaki, dan mukosa dapat membantu.
ABCDE pada Anak Kritis
| Komponen | Apa yang dicari? | Tindakan penting |
|---|---|---|
| A – Airway | Patensi airway, stridor, snoring, secretions, obstruction. | Buka airway, positioning, suction bila perlu, airway adjunct sesuai kompetensi. |
| B – Breathing | RR, work of breathing, chest expansion, air entry, SpO2, cyanosis. | Oksigenasi dan ventilasi; eskalasi ke bag-mask, SGA, atau intubasi sesuai kebutuhan dan kompetensi. |
| C – Circulation | HR, pulse volume, BP, CRT, skin, urine output, mental status. | Akses IV/IO, evaluasi jenis shock, cairan secara selektif, vasoaktif dini bila diperlukan. |
| D – Disability | AVPU/GCS, pupil, kejang, defisit neurologis, glukosa. | Koreksi hipoglikemia, terapi kejang, pertimbangkan stroke/neuroinfeksi. |
| E – Exposure | Suhu, rash, trauma, tanda abuse/neglect. | Kontrol suhu dan cari penyebab dasar. |
Nilai fisiologis yang perlu diingat
| Usia | RR upper | RR lower | HR upper | HR lower | SBP p5 | MAP p5 |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 bulan | 60 | 25 | 180 | 110 | 50 | 40 |
| 1 tahun | 50 | 20 | 170 | 100 | 70 | 50 |
| 2 tahun | 40 | 18 | 160 | 90 | 73 | 53 |
| 5 tahun | 30 | 17 | 140 | 70 | 75 | 55 |
| 10 tahun | 25 | 14 | 120 | 60 | 80 | 55 |
| 18 tahun | 20 | 12 | 100 | 60 | 90 | 60 |
Respiratory Failure dan Circulatory Failure: Kenali Fase Kompensasi
ERC menekankan bahwa satu tanda klinis saja tidak cukup untuk menentukan respiratory failure atau shock. Tren perubahan klinis lebih penting daripada satu angka tunggal.
| Kondisi | Fase kompensasi | Decompensated / risiko arrest |
|---|---|---|
| Respiratory failure | Takipnea, peningkatan work of breathing, wheezing, hipoksemia ringan, normo-/hipokapnia, agitasi. | Bradipnea, napas irregular, grunting, silent chest, SpO2 <90%, hiperkapnia, penurunan kesadaran. |
| Shock | Takikardia, perfusi periferik menurun, pulse periferik melemah, tekanan darah masih normal, agitasi. | Bradikardia, pulse sentral melemah, hipotensi, penurunan kesadaran. |
Airway: Intubasi Bukan Tujuan, Oksigenasi adalah Tujuan
ERC 2025 menekankan bahwa airway harus dibuka dan dipertahankan agar oksigenasi dan ventilasi adekuat. Pada anak yang mengalami penurunan kesadaran, airway adjunct dapat dipertimbangkan sesuai kompetensi.
Untuk intubasi:
- Gunakan pendekatan yang terstruktur.
- Preoksigenasi sebelum induksi.
- Hindari distensi lambung.
- Gunakan sedatif dan neuromuscular blocker dengan onset cepat kecuali anak sangat dalam koma.
- Atropin tidak digunakan sebagai premedikasi rutin.
- Rute oral lebih disukai pada kondisi emergensi.
- Gunakan direct atau video laryngoscopy sesuai kompetensi dan protokol lokal.
- Gunakan cuffed tracheal tube pada semua kelompok usia.
- Konfirmasi posisi tube secara klinis dan dengan ETCO2.
- Maksimal dua kali percobaan intubasi, dengan durasi masing-masing sekitar 30–60 detik.
Bila saturasi turun atau terjadi bradikardia selama upaya intubasi, hentikan percobaan dan segera kembali ke bag-mask ventilation atau SGA untuk memulihkan oksigenasi.
Breathing: Oksigenasi dan Ventilasi
Pada anak dengan respiratory, circulatory, atau neurological failure, ERC merekomendasikan pemberian 100% oksigen pada fase awal. Setelah SpO2 dapat dipantau secara reliabel, FiO2 harus dititrasi.
Pada anak yang sebelumnya sehat, target SpO2 adalah sekitar 94–98%, dengan tujuan mencapai saturasi minimal 94% menggunakan FiO2 serendah mungkin.
Untuk ventilasi mekanik, guideline memberikan pendekatan awal berupa:
- Vt 6–8 mL/kg berdasarkan ideal body weight.
- PEEP awal 5 cmH2O.
- RR pada kisaran rendah-normal sesuai usia.
- Hindari hiperventilasi maupun hipoventilasi.
- Gunakan ETCO2 dan analisis gas darah bila tersedia.
DOPES pada deteriorasi mendadak anak dengan ventilator
| D – Displacement | Tube/SGA/mask bergeser. |
| O – Obstruction | Secretions, tube, airway, circuit, posisi kepala. |
| P – Pneumothorax | Cari pneumothorax atau patologi paru lainnya. |
| E – Equipment | Disconnect, oxygen supply, tubing, valve, ventilator. |
| S – Stomach/Stacking/Sedation | Distensi abdomen, stacked breaths, atau sedasi tidak adekuat. |
Circulation dan Shock
Pada anak dengan shock, ERC menyarankan agar akses IV tidak dikejar tanpa batas. Bila akses IV tidak berhasil atau kemungkinan berhasil rendah, intraosseous access harus dipertimbangkan sebagai akses penyelamat.
Fluid resuscitation
Untuk hypovolaemic, obstructive, atau distributive shock, dapat diberikan 10 mL/kg balanced isotonic crystalloid dan dilakukan reassessment setelah setiap bolus.
Total cairan hingga sekitar 40–60 mL/kg pada jam pertama dapat dibutuhkan pada sebagian anak dengan hypovolaemic atau distributive shock, tetapi terapi harus terus dievaluasi terhadap tanda fluid overload dan cardiac failure.
Pada cardiogenic shock, cairan harus jauh lebih hati-hati; guideline memberikan contoh bolus sekitar 5 mL/kg pada kondisi yang memang membutuhkan cairan.
Vasoaktif
Vasoaktif sebaiknya dimulai dini bila shock menetap. ERC 2025 menyebut:
- Noradrenaline sebagai first-line vasopressor.
- Adrenaline sebagai first-line inotrope.
- Milrinone sebagai first-line inodilator.
Vasoaktif tidak seharusnya dititrasi berdasarkan tekanan darah saja. Evaluasi juga pulse, capillary refill, urine output, dan parameter perfusi lainnya.
Disability: Otak adalah Target Utama
Evaluasi neurologis mencakup AVPU, GCS/pediatric GCS, pupil, posturing, tanda neurologis fokal, serta pemeriksaan glukosa darah.
Kejang merupakan kegawatan neurologis dan harus ditangani secara time-critical. ERC 2025 memberikan algoritme baru dengan levetiracetam sebagai pilihan lini kedua yang diutamakan.
Hipoglikemia
Jika hipoglikemia terdeteksi dan pemberian oral memungkinkan, dapat diberikan 0,3 g/kg glukosa. Bila oral tidak memungkinkan, diberikan 0,2 g/kg IV, misalnya 2 mL/kg glukosa 10%, kemudian kadar glukosa diperiksa kembali setelah 5–10 menit dan dosis dapat diulang bila diperlukan.
Paediatric Basic Life Support (PBLS)
Pada anak tidak responsif tanpa napas normal, tindakan harus dilakukan segera. ERC 2025 menyederhanakan prinsip PBLS menjadi tiga langkah besar: Check – Call – CPR & AED.
Langkah dasar PBLS
- Pastikan keselamatan penolong dan anak.
- Nilai respons dengan stimulasi verbal dan taktil; jangan menggunakan rangsang nyeri.
- Jika tidak responsif, panggil bantuan/EMS segera.
- Buka airway dan evaluasi napas serta tanda kehidupan maksimal sekitar 10 detik.
- Berikan lima rescue breaths awal.
- Mulai kompresi dada.
- Gunakan AED sesegera mungkin bila tersedia dan ada penolong kedua.
Untuk penolong yang mendapatkan pelatihan PBLS ERC, rasio kompresi dan ventilasi adalah 15:2. Untuk penolong yang tidak memiliki pelatihan PBLS khusus dan mengikuti instruksi dispatcher, rasio yang digunakan adalah 30:2 dengan lima rescue breaths awal.
Teknik kompresi dada
Pada infant, ERC 2025 merekomendasikan two-thumb encircling technique. Pada anak usia 1–8 tahun, satu atau dua tangan dapat digunakan sesuai ukuran anak. Pada adolescent, teknik dua tangan seperti dewasa digunakan.
Kedalaman kompresi adalah sekitar setidaknya sepertiga diameter anteroposterior thoraks. Pada adolescent, kedalaman kompresi mengikuti prinsip dewasa sekitar 5–6 cm.
Yang sangat ditekankan adalah meminimalkan interruption. Jeda kompresi sebaiknya <5 detik bila memungkinkan.
Foreign Body Airway Obstruction pada Anak
Choking merupakan kegawatan yang membutuhkan tindakan segera. ERC 2025 mempertahankan prinsip bahwa back blows menjadi intervensi awal, kemudian dilakukan thrust sesuai kelompok usia.
- Infant: back blows kemudian chest thrusts.
- Child/adolescent: back blows kemudian abdominal thrusts.
- Intervensi diulang secara bergantian sampai benda asing keluar atau anak kehilangan kesadaran.
- Jangan melakukan blind finger sweep.
- Jika benda asing terlihat jelas, dapat diambil secara langsung.
Paediatric Advanced Life Support (PALS)
PALS dimulai ketika anak mengalami cardiac arrest atau kondisi peri-arrest. Pendekatan utama adalah:
- Kenali cardiac arrest.
- Mulai CPR berkualitas tinggi.
- Pasang cardiac monitoring/defibrillator.
- Bedakan shockable dan non-shockable rhythm.
- Identifikasi serta terapi penyebab reversibel.
Non-shockable rhythm
Yang termasuk non-shockable rhythm adalah asystole, PEA, dan bradikardia dengan perfusi buruk.
- Berikan adrenaline IV/IO sedini mungkin.
- Reassess rhythm setiap 2 menit dengan jeda pemeriksaan <5 detik.
- Adrenaline diulang secara pragmatis setiap 4 menit.
- Jika akses IV sulit, segera pertimbangkan IO.
Catatan penting tentang satuan: teks PDF hasil ekstraksi/OCR menampilkan dosis adrenaline sebagai “10 mg kg−1”, tetapi konteks dosis PALS tersebut merupakan 10 µg/kg = 0,01 mg/kg, maksimum 1 mg. Untuk publikasi klinis, satuan sebaiknya selalu diverifikasi kembali terhadap diagram asli guideline dan protokol obat lokal untuk mencegah kesalahan interpretasi.
Shockable rhythm: VF/pVT
Pada ventricular fibrillation (VF) atau pulseless ventricular tachycardia (pVT):
- Defibrilasi segera.
- Energi awal 4 J/kg.
- Segera lanjutkan CPR selama 2 menit.
- Evaluasi rhythm kembali.
- Jika masih shockable, berikan shock berikutnya dan lanjutkan CPR.
- Adrenaline dan amiodarone diberikan setelah shock ketiga.
- Adrenaline diulang setiap 4 menit.
- Amiodarone dosis kedua diberikan setelah shock kelima.
Pada refractory VF/pVT, energi defibrilasi dapat dinaikkan secara bertahap hingga 8 J/kg, dengan batas maksimum sesuai rekomendasi guideline.
| Intervensi | ERC 2025 |
|---|---|
| Initial defibrillation | 4 J/kg |
| Refractory VF/pVT | Naik bertahap hingga 8 J/kg sesuai kondisi dan batas energi. |
| Adrenaline | 10 µg/kg IV/IO, maksimum 1 mg. |
| Amiodarone setelah shock ke-3 | 5 mg/kg, maksimum 300 mg. |
| Amiodarone setelah shock ke-5 | 5 mg/kg, maksimum 150 mg. |
| Alternatif antiaritmia | Lidocaine dapat dipertimbangkan bila amiodarone tidak tersedia atau sesuai keputusan lokal. |
Oxygenation, Ventilation, dan Monitoring Selama PALS
Selama CPR, ERC menggunakan 100% oxygen dan tidak menitrasi FiO2. Setelah ROSC tercapai, FiO2 diturunkan untuk mencapai target SpO2 sekitar 94–98%.
Jika advanced airway telah terpasang, kompresi dada dapat dilakukan secara kontinu dengan ventilasi sesuai frekuensi usia:
| Kelompok | Frekuensi ventilasi praktis |
|---|---|
| Infant | 25/menit |
| >1 tahun | 20/menit |
| >8 tahun | 15/menit |
| >12 tahun | 10/menit |
ETCO2 digunakan untuk menilai efektivitas ventilasi dan membantu mengenali ROSC. Jika tersedia arterial line, ERC juga memberikan target diastolic blood pressure selama arrest sekitar ≥25 mmHg pada infant dan ≥30 mmHg pada anak/remaja.
Penyebab Reversibel: Jangan Hanya Melakukan CPR
ERC 2025 mempertahankan konsep 4H4T. CPR berkualitas tinggi harus berjalan bersamaan dengan pencarian dan penanganan penyebab reversibel.
| Penyebab | Petunjuk | Prinsip terapi |
|---|---|---|
| Hypoxia | SpO2/PaO2, airway, ventilasi. | Ventilasi 100% O2, koreksi airway/ventilasi. |
| Hypovolaemia | Sepsis, perdarahan, diare, anafilaksis. | Cairan isotonic 10 mL/kg; blood products pada major haemorrhage. |
| Hyper-/hypokalaemia | Renal failure, tumour lysis, crush, obat, kehilangan GI. | Koreksi gangguan elektrolit secara spesifik. |
| Hypoglycaemia | Pemeriksaan glukosa. | Glukosa IV sesuai rekomendasi. |
| Hypothermia/hyperthermia | Riwayat dan core temperature. | Rewarming atau cooling sesuai kondisi. |
| Thromboembolism | Risiko trombosis, POCUS, riwayat klinis. | Pertimbangkan thrombolysis sesuai kondisi. |
| Tension pneumothorax | Trauma, PPV, asthma berat, asimetri air entry. | Dekompresi segera sesuai kompetensi dan setting. |
| Tamponade | Operasi jantung, trauma penetrasi, perikarditis; POCUS. | Pericardiocentesis atau thoracotomy pada trauma sesuai expertise. |
| Toxic agents | Riwayat paparan, ECG, blood gas, elektrolit. | Antidot, decontamination, enhanced elimination, dan pertimbangkan ECPR. |
Special Circumstances yang Harus Diketahui
Anaphylaxis
Anaphylaxis harus dikenali dan ditangani secepat mungkin. ERC 2025 merekomendasikan adrenaline IM 0,01 mg/kg = 10 µg/kg, maksimum 0,5 mg, pada anterolateral mid-thigh. Dosis dapat diulang setiap 5 menit bila gejala menetap.
Secara praktis, guideline memberikan contoh dosis 0,15 mg pada usia 1–5 tahun, 0,3 mg pada usia 6–12 tahun, dan 0,5 mg pada usia >12 tahun. Cairan isotonic 10 mL/kg dapat diberikan bila terdapat shock.
ERC tidak merekomendasikan steroid rutin pada anafilaksis kecuali terdapat asthma bersamaan. Anak dengan reaksi anafilaksis perlu evaluasi lebih lanjut dan rencana pencegahan reaksi berikutnya.
Traumatic cardiac arrest
Pada traumatic cardiac arrest, prinsip penting adalah HOTT:
- H – Hypotension
- O – Oxygenation/hypoxia
- T – Tension pneumothorax
- T – Tamponade
Pengendalian perdarahan eksternal yang masif dapat menjadi prioritas sebelum kompresi dada pada anak tidak responsif. Blood products harus diberikan sedini mungkin pada haemorrhagic shock bila tersedia.
Drowning
Pada drowning, hypoxia merupakan mekanisme utama cardiac arrest. Karena itu ventilasi menjadi sangat penting. Setelah anak dapat dikeluarkan dengan aman dari air, PBLS dimulai dengan lima rescue breaths.
Oksigen 100% diberikan segera ketika tersedia. AED dipasang setelah dada dikeringkan, tetapi CPR dan oxygenation tidak boleh ditunda hanya untuk mencari atau memasang AED.
Hypothermic cardiac arrest
ERC menekankan bahwa tidak boleh menggunakan suhu tertentu sebagai alasan untuk tidak memulai CPR pada anak dengan hypothermic cardiac arrest. CPR dimulai sesegera mungkin dan rewarming dilakukan secara bersamaan.
Pada suhu inti <30°C, diberikan satu dosis adrenaline kecuali direncanakan segera extracorporeal life support. Bila rhythm shockable, maksimal tiga percobaan defibrilasi dilakukan sebelum upaya berikutnya ditunda sampai suhu meningkat di atas 30°C.
Hyperkalaemia
Hiperkalemia berat merupakan keadaan yang sangat relevan pada anak dengan renal failure, tumour lysis syndrome, crush syndrome, malignant hyperthermia, hemolysis, atau intoxication tertentu.
Pada cardiac arrest dengan hiperkalemia berat, ERC 2025 merekomendasikan insulin + glucose dan short-acting beta2-agonist. Secara khusus, guideline 2025 tidak merekomendasikan kalsium pada cardiac arrest akibat hiperkalemia berdasarkan evidence yang dipertimbangkan oleh ILCOR/ ERC.
ECPR: Kapan Mempertimbangkannya?
Extracorporeal cardiopulmonary resuscitation (ECPR) merupakan terapi yang sangat bergantung pada sumber daya, pengalaman pusat, dan keberadaan tim multidisiplin 24 jam.
ERC 2025 menyarankan mempertimbangkan ECPR secara dini pada pasien terpilih dengan in-hospital cardiac arrest yang refrakter terhadap CPR konvensional, terutama anak dengan penyakit jantung atau kondisi perioperatif, di pusat yang memiliki program ECPR yang matang.
Pada OHCA, bukti masih lebih terbatas, tetapi ECPR dapat menjadi pilihan pada kasus tertentu seperti refractory shockable rhythm, drowning, atau severe hypothermia ketika fasilitas tersedia.
Post-Resuscitation Care: ROSC Bukan Akhir Resusitasi
Begitu return of spontaneous circulation (ROSC) tercapai, fase resusitasi berubah menjadi fase pencegahan secondary brain injury, recurrent arrest, dan multiorgan dysfunction.
Target utama setelah ROSC
| Domain | Prinsip ERC 2025 |
|---|---|
| Oxygenation | Target SpO2 sekitar 94–98% bila tidak ada kondisi khusus. |
| Ventilation | Target normocapnia. |
| Blood pressure | SBP dan MAP dipertahankan > persentil ke-10 sesuai usia. |
| Temperature | Kontrol suhu minimal 24 jam; hindari fever setidaknya 72 jam. |
| Neurologic | Monitor dan obati kejang; lakukan evaluasi neurologis berulang. |
| Glucose | Periksa dan koreksi hipoglikemia. |
| Kidney | Prevent, diagnose, and treat acute kidney injury. |
| Nutrition | Optimalkan nutrisi. |
| Rehabilitation | Mulai rehabilitasi secara dini. |
| Family | Family-centred care dan komunikasi yang jelas. |
Temperature Control Setelah ROSC
ERC 2025 menekankan bahwa hyperthermia harus dihindari. Kontrol suhu merupakan bagian integral dari neuroprotection.
Guideline menyebutkan bahwa normothermic maupun hypothermic temperature control dapat digunakan setidaknya selama 24 jam, sementara demam harus dihindari selama sedikitnya 72 jam setelah ROSC.
Hypothermic temperature control membutuhkan kemampuan neurocritical care pediatrik yang memadai, termasuk monitoring komplikasi seperti bradikardia, gangguan metabolik, koagulopati, dan infeksi. Bila fasilitas tersebut tidak tersedia, strict normothermia dan pencegahan fever tetap menjadi pendekatan penting.
Kejang Setelah Cardiac Arrest
Kejang klinis maupun electroencephalographic dapat muncul setelah cardiac arrest dan berhubungan dengan outcome neurologis yang buruk. ERC/ILCOR merekomendasikan terapi kejang segera bila muncul, tetapi tidak merekomendasikan pemberian obat antikejang secara profilaksis secara rutin.
Continuous EEG dapat dipertimbangkan terutama pada pasien dengan gangguan kesadaran yang menetap atau kecurigaan kejang non-konvulsif.
Prognostikasi Neurologis: Jangan Menggunakan Satu Parameter
Salah satu pesan paling penting dari ERC 2025 adalah bahwa prognostikasi setelah cardiac arrest harus bersifat multimodal.
Tidak ada satu modalitas pemeriksaan yang dapat digunakan secara terisolasi untuk memprediksi outcome neurologis dengan akurasi tinggi.
Prognostikasi harus mempertimbangkan tiga kelompok informasi:
- Pre-arrest: kondisi kesehatan dan status neurologis sebelum arrest.
- Intra-arrest: lokasi arrest, apakah bystander CPR dilakukan, initial rhythm, penyebab arrest, dan durasi arrest.
- Post-arrest: evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan secara serial.
ERC menyarankan menunda prognostikasi pada anak dengan penurunan kesadaran atau yang masih mendapatkan sedasi selama setidaknya 72 jam setelah cardiac arrest.
Minimal diagnostic set
| Pemeriksaan | Waktu yang disebutkan guideline |
|---|---|
| Pupil reactivity terhadap cahaya | Hari 1–6 |
| GCS atau GCS motor component | Hari 1–6 |
| pH dan lactate | Hari 1 |
| S100B, NSE, MBP | Pemeriksaan tambahan, terutama hari 1 |
| EEG / SSEP | Hari 1–2 |
| MRI otak | Hari 3–5 |
Interpretasi seluruh pemeriksaan tersebut harus dilakukan sebagai kombinasi data, bukan berdasarkan satu hasil pemeriksaan tunggal.
Post-Discharge Care: Fase yang Sering Terlupakan
ERC 2025 memperluas konsep resusitasi hingga periode setelah pasien meninggalkan rumah sakit. Anak yang selamat dari cardiac arrest dapat mengalami konsekuensi fisik, neurologis, neuropsikologis, fungsional, maupun kualitas hidup yang berlangsung lama.
Karena itu, follow-up harus mulai direncanakan sebelum pasien pulang.
- Gunakan pengukuran outcome yang terstandarisasi dan tervalidasi.
- Libatkan pediatric psychologist, neurologist, rehabilitation physician, dan/atau intensivist sesuai kebutuhan.
- Gunakan multidisciplinary follow-up untuk mengurangi jumlah kunjungan yang tidak perlu.
- Pertimbangkan virtual consultation bila akses ke rumah sakit sulit.
- Screen anak dan keluarga terhadap gejala post-intensive care syndrome.
- Sediakan dukungan psikologis dan struktur dukungan keluarga.
- Keluarga pasien yang meninggal juga perlu mendapatkan bereavement care.
Family-Centred Care
Salah satu perubahan konseptual penting adalah posisi keluarga sebagai bagian dari sistem perawatan, bukan sekadar penerima informasi.
ERC merekomendasikan agar orang tua/caregiver dapat tetap bersama anak bila hal tersebut tidak membahayakan keselamatan anak, keluarga, maupun tim. Komunikasi harus dilakukan secara jelas, jujur, sensitif terhadap kebutuhan keluarga, dan memungkinkan shared decision-making.
Resusitasi anak bukan hanya menyelamatkan jantung. Tujuannya adalah mempertahankan fungsi otak, organ, kualitas hidup, dan mendukung anak serta keluarganya sepanjang proses pemulihan.
Implementasi di Rumah Sakit: Guideline Tidak Akan Bekerja Tanpa Sistem
ERC 2025 secara eksplisit memasukkan aspek system-level implementation. Kualitas resusitasi tidak hanya bergantung pada pengetahuan seorang dokter atau perawat, tetapi pada sistem yang memungkinkan tindakan cepat dan konsisten.
Elemen sistem yang direkomendasikan
- Resuscitation team dengan anggota dan peran yang telah ditentukan.
- Sistem pemanggilan tim yang jelas dan dapat diaudit.
- Training PBLS untuk tenaga kesehatan yang merawat anak.
- Training PALS untuk tim resusitasi.
- Bag-mask ventilation sebagai kompetensi inti.
- Akses IO yang dapat dilakukan dalam beberapa menit ketika IV sulit.
- Resuscitation trolley yang distandardisasi.
- Drug calculation yang distandardisasi.
- Algorithm, checklist, poster, aplikasi, atau cognitive aids yang mudah diakses.
- Team briefing dan debriefing setelah kejadian kritis.
- Audit dan quality improvement secara berkala.
- Early warning system sebagai bagian dari clinical response system yang lebih luas.
ERC juga menekankan pentingnya low-dose, high-frequency training untuk mempertahankan keterampilan dan kompetensi tim.
Resusitasi di Setting dengan Sumber Daya Terbatas
Pedoman tidak mengharuskan semua fasilitas memiliki teknologi yang sama. Prinsipnya adalah mencapai tingkat pelayanan tertinggi yang realistis sesuai konteks, kemudian memprioritaskan intervensi yang paling berdampak.
Contohnya, bila video laryngoscope tidak tersedia, direct laryngoscopy tetap dapat digunakan oleh provider yang kompeten. Bila balanced crystalloid tidak tersedia, normal saline dapat digunakan dalam kondisi tertentu. Bila spesialis pediatrik tidak tersedia, konsultasi jarak jauh atau telemedicine dapat menjadi alternatif.
Setelah cardiac arrest, bila PICU pediatrik tidak tersedia, anak idealnya dirawat di fasilitas yang mampu memberikan intensive monitoring selama 24–72 jam, terutama dengan perhatian ketat terhadap oxygenation, ventilation, circulation, dan temperature.
Ringkasan Praktis: Apa yang Harus Diingat di Bedside?
10 pesan kunci ERC PLS 2025
- Prevent arrest: kenali dan obati anak kritis sedini mungkin.
- ABCDE: jangan menunggu hipotensi atau cardiac arrest untuk bertindak.
- Airway: prioritaskan oksigenasi; jangan melakukan intubasi berulang tanpa batas.
- Breathing: pada kondisi awal berat gunakan 100% O2, kemudian titrasi SpO2 94–98% bila memungkinkan.
- Shock: reassessment setelah setiap bolus dan jangan terlambat menggunakan vasoaktif.
- PBLS: lima rescue breaths awal kemudian CPR berkualitas tinggi.
- PALS: segera bedakan shockable versus non-shockable rhythm.
- 4H4T: selalu cari dan tangani penyebab reversibel.
- Post-ROSC: normoxaemia, normocapnia, perfusi adekuat, kontrol suhu, terapi kejang, nutrisi, dan rehabilitasi.
- Prognostication: jangan menggunakan satu parameter; gunakan pendekatan multimodal dan jangan terlalu dini.
28. Visual Roadmap ERC Paediatric Life Support 2025
Kenali anak kritis
Call for help
CPR + AED
ALS + reversible causes
Brain & organ protection
Prognostikasi & follow-up
Kesimpulan
ERC Guidelines 2025 Paediatric Life Support membawa konsep resusitasi anak menjadi sebuah continuum of care. Resusitasi tidak dimulai ketika monitor menunjukkan asystole, tetapi dimulai ketika tenaga kesehatan atau caregiver pertama kali mengenali tanda anak sedang memburuk.
Di tingkat klinis, pendekatan tersebut berarti recognition → ABCDE → early intervention → PBLS → PALS → reversible causes → ROSC care → neuroprotection → prognostication → rehabilitation → post-discharge follow-up.
Beberapa pesan yang sangat menonjol pada versi 2025 adalah pentingnya pencegahan cardiac arrest, penggunaan two-thumb encircling technique pada infant, pembatasan percobaan intubasi, pendekatan baru pada seizure dan hypoglycaemia, penekanan pada reversible causes, perluasan post-resuscitation care, prognostikasi multimodal yang tidak terlalu dini, serta dimasukkannya post-discharge care sebagai bagian dari guideline.
Dengan demikian, keberhasilan resusitasi anak sebaiknya tidak hanya dinilai dari tercapainya ROSC. Tujuan akhirnya adalah survival dengan fungsi neurologis, organ, kualitas hidup, dan pemulihan yang sebaik mungkin bagi anak serta keluarganya.
Referensi Utama
Djakow J, McBeth Turner N, Skellett S, et al. European Resuscitation Council Guidelines 2025: Paediatric Life Support. Resuscitation. 2025;215:110767. DOI: 10.1016/j.resuscitation.2025.110767.
Komentar